Pages

Rabu, 18 Desember 2024


 Rindu Syair Penyair

Dua puluh musim berlalu dan tertatih,
meninggalkan bekas langkah yang luluh.
Jemari gentar, dingin, terasa letih,
Rindu menjalar terbawa waktu meluruh.


Pernah terduduk di pangkuan malam,
memintal duka mengharap sutra.
Kisah tertulis denyut mendalam,
bercanda rindu asing berbahasa. 


Jiwa ini pergi, membungkam puisi dalam peti,
merelakan semua kata tidur di bawah debu.
Tapi malam mengetuk jendela memanggil kembali,
hatipun sadar rindu tak ingin mati begitu.


Maka kembali, Sang Penyair Sunyi tua.
Membuka bilik lantunan kata yang lama terkunci.
Biarkan bait kembali bernapas, menangis, dan tertawa,
karena rindu lah peta jalan kembali lagi.


Maka biarlah mereka mendengar lagi degup sajak baru,
yang merambat seperti nyala lilin di ujung senja.
Karena dalam setiap rindu yang menjadi syair itu,
seluruh sunyi akan bertepuk hidup kembali dan bernyawa.


Tidak ada komentar:

Posting Komentar